Text

..-SELAMAT DATANG-..
Presiden Ir. Soekarno pernah mengatakan bahwa 'Hidup Matinya Suatu Bangsa ada pada sektor Pertanian'. Negara Indonesia adalah negara agraris, dimana sektor pertanian masih menjadi tulang punggung negara ini untuk tetap berdiri dan berlari. Sudah waktunya sektor pertanian kembali bangkit untuk membawa Indonesia menuju kejayaannya, dan kitalah MAHASISWA PERTANIAN yang akan menorehkan tinta emas itu.

Rabu, 24 Agustus 2011

SEGITIGA EMAS : PERTANIAN, KEMISKINAN DAN KAWASAN TIMUR INDONESIA


Ketiga tematik tersebut seluruhnya adalah masalah besar pembangunan nasional jika dimaknai secara harfiah. tapi yang tersembunyi didalamnya adalah justru ketiganya merupakan Peluang Emas bagi mereka yang berfikir jernih, berjiwa membangun, visioner dan pejuang. Mengapa?

Pertama: potensi sumber daya yang terbesar ada pada sektor pertanian, sehingga apabila sektor ini dikelola pembangunannyasecara terencana dengan baik, dengan teknologi modern maka ada jaminan bangsa ini akan menjadi makmur. Salah satu alasan sederhana bahwa produk pertanian adalah sumber pangan bagi manusia yang dibutuhkan sepanjang hidup umat manusia, berarti bahwa kegiatan dan produk pertanian akan berlangsung dan dibutuhkan sepanjang peradaban manusia. Pertanian juga merupakan sumber pendapatan dan kehidupan bagi sebagian besar penduduk Indonesia, sehingga kemajuan pertanian identik dengan kemajuan perekonomian dan kesejahteraan bagi sebagian besar penduduk negeri ini. Dengan demikian kebarhasilan pembangunan pertanian akan mendulang emas yang tidak ternilai, karena selain menjamin ketersediaan pangan, juga penghasil devisa, penyediaan kesempatan kerja, membangun pedesaan dan ekonomi kerakyatan.

Kedua: tema kemiskinan yang semakin menghantui penduduk bumi ini jumlahnya cenderung semakin meningkat. Bukankah saat ini telah mencapai 1,2 milyar dari 6,5 milyar penduduk bumi ini, tergolong masyarakat rawan pangan alias miskin. Itulah sebabnya, semua petinggi negara diseluruh belahan bumi ini semakin prihatin dan sibuk memikirkan dan merumuskan kebijakan/program untuk mengurangi jumlah penduduk miskin termasuk salah satu diantaranya adalah diluncurkannya program Millenium Development Goals (MDGs). Disadari bahwa kwmiskinan memiliki dampak sistemik terhadap seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemiskinan adalah fenomena sosial yang harus diperangi oleh seluruh model-model pembangunan disemua negara. Menurunkan angka kemiskinan sampai titik yang dapat ditolerir bahkan nol persen adalah suatu keberhasilan yang luar biasa bagi suatu bangsa. Pemerintah patut mendapatkan apresiasi, karena menemukan model pembangunan yang menyelesaikan masalah kemiskinan secara permanen. Pemerintah berhasil menebar emas bagi masyarakatnya, memberikan kesejahteraan.

Ketiga: Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, adalah negara kewilayahan yang semestinya mengalami perlakuan dan perkembangan yang equal, proporsional, adil dan merata sehingga tidak terjadi ketimpangan antar wilayah, antar pulau dan antar desa dan kota sehingga terjadi integrasi dan harmonisasi, sinergi yang kuat antar wilayah sebagai satu kesatuan negara dan bangsa. Ketertinggalan pembangunan di salah satu kawasan berpotensi menjadi sumber masalah nasional yang jika tidak ditangani secara proporsional dapat menjadi sumber pemicu ketidak adilan yang dapat mengkristal menjadi ancaman disintegrasi bangsa. Kawasan timur adalah bagian integral dari wilayah NKRI, yang memerlukan sentuhan, perhatian, dan keadilan dalam pembangunan. Keberhasilan membangun KTI akan menciptakan kesejahteraan tidak hanya di KTI tapi bagi seluruh bangsa. Menbangun KTI berarti menciptakan emas untuk kesejajteraan bangsa, karena potensi ekonomi (dus, potensi emas) dikawasan tersebut terutama di sektor pertanian luar biasa besarnya.

Ketiga tematik tersebut, juga saling terkait atau interdependensi (Interrelated). Juga bersifat komplementer dalam pengertian bahwa apabila salah satu diantaranya dirancang dengan baik pembangunannya, maka akan berdampak pada dua tematik yang lain. Sebagai ilustrasi; membangun pertanian dengan baik di KTI akan menyelesaikan masalah kemiskinan, masalah ketimpangan antar wilayah, karena potensi KTI secara umum adalah pada sektor pertanian (termasuk perikanan dan kehutanan). Pada skenario lain, jika kita ingin membangun kawasan timur maka investasi di pertanian hampir menjada jawaban tunggal, karena potensinya pada sumber daya alam dan pelaku pertanian adalah petani/nelayan yang sebagian besar tergolong miskin. Skenario terakhir jika kita ingin memberatas kemiskinan, maka kegiatan dan program yang paling sesuai dengan karakteristik dan keterampilan masyarakat miskin adalah berusaha di bidang pertanian, dan sekali lagi peluang untuk usaha pertanian yang potensinya besar ada di Kawasan Timur Indonesia.

Ada kemiripan dari model three in one dalam mendorong ketiga tematik tersebut dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Karena apabila salah satu diantaranya disentuh maka akan terasa dampaknya oleh dua yang lain. Sebaliknya apabila salah satu tidak tersentuh sangat berpotensi pada penghambatan perkembangan yang dua lainnya. Misalnya apabila pembangunan pertanian tidak banyak diarahkan ke KTI, maka program pengentasan kemiskinan akan berjalan lambat, karena budaya masyarakatnya adalah bertani, keterampilan yang dimiliki oleh mereka yang berdiam di KTI adalah dibidang cocok tanam dan nelayan. Kelambatan pembangunan pertanian di KTI, akan menyebabkan tidak hanya kawasan itu mengalami kelambatan tapi juga berpengaruh pada kawasan Barat Indonesia. Mengapa? Karena tidak akan terjadi transformasi kesempatan kerja yang memadai. di KBI khsusnya Pulau Jawa yang telah mengalami over population memerlukan alternatif kawasan untuk menampung surplus tenaga kerja dan penduduk yang ada di KBI tersebut sehingga sebetulnya membangun KTI berarti membangun KBI dan membangun seluruh negeri dan bangsa.

Lalu Segitiga Emasnya dimana dan dalam konteks apa?

Pertama; ketiga tematik tersebut adalah pundi-pundi peluang emas bagi mereka atau bagi bangsa yang dapat menyelesaikan ketiga masalah pembangunan nasional tersebut secara simultan. Bangsa ini akan menjadi the champions dan ganjarannya adalah medali emas, jika dapat menyelesaikan dan membangun ketiga tematik tersebut. Tapi jika hanya dua tematik yang diselesaikan barangkali medalinya perak dan bila hanya satu yang dapat diselesaikan maka hadiahnya adalah medali perunggu. Dapat juga diterjemahkan bahwa penyelesaian dan pembangunan setiap tematik secara baik dan tepat sasaran, maka berarti pemerintah dan bangsa ini akan memperoleh Medali Emas. Dengan menyelesaikan ketiga persoalan tersebut, berarti terdapat 3 medali emas bagi pemerintah dan bangsa dan itulah sebabnya disebut Segitiga Emas.

Kedua; Pemecahan persoalan dari ketiga tematik tersebut bermuara pada peningkatan kesejahteraan, peningkatan pendapatan, peningkatan perekonoian. dalam teori ekonomi dasar sangat banyak digunakan emas sebagai standar kekuatan ekonomi, standar kesejahteraan, standar kekayaan individu dan negara. Siapa yang memiliki banyak emas maka dia akan mendapat predikat kaya, sejahtera, maju dan berkembang. Dapat juga diartikan semakin berhasil bangsa ini membangun pertanian, membangun Kawasan Timur dan semakin berkurangnya kemiskinan, maka bangsa ini akan semakin sejahtera, semakin berkeadilan, semakin merata dengan demikian semakin banyak mencetak emas bagi bangsa ini.

Dikutip dari Pengantar Buku 'SEGITIGA EMAS: PERTANIAN, KEMISKINAN DAN KAWASAN TIMUR INDONESIA'
Oleh : Dr. Ir. Iskandar Andi Nuhung, MS
Pembina IBEMPI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar